MODUL 4
1. Judul [kembali]
Sistem Monitoring dan Deteksi Kebocoran LPG pada Dapur Hunian Sementara
Gas LPG merupakan sumber energi utama masyarakat Indonesia, namun penggunaannya di hunian sementara (huntara) pasca-bencana memiliki risiko kebakaran yang sangat tinggi. Karakteristik huntara yang berukuran sempit, bermaterial ringan, dan memiliki ventilasi buruk membuat gas yang bocor sangat cepat terakumulasi hingga mencapai batas ledakan (Lower Explosive Limit). Masalah ini diperparah oleh keterbatasan manusia yang tidak mampu mendeteksi kebocoran kecil hanya dengan indra penciuman, risiko kelalaian teknis, serta kerentanan struktur huntara terhadap ancaman sekunder seperti gempa susulan atau guncangan fisik. Tanpa adanya sistem peringatan dini yang terintegrasi, penumpukan gas beracun maupun guncangan struktural dapat memicu dampak fatal bagi jaminan keselamatan jiwa penghuninya.
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, dirancang sebuah Prototype Sistem Monitoring dan Deteksi Kebocoran LPG pada Dapur Hunian Sementara berbasis mikrokontroler STM32. Sistem ini mengintegrasikan tiga sensor utama secara komprehensif, yaitu sensor MQ-6 untuk mendeteksi konsentrasi kebocoran gas, flame sensor untuk mendeteksi adanya aktivitas api, dan vibration sensor untuk memantau guncangan atau getaran pada struktur bangunan huntara. Informasi kondisi lingkungan ini ditampilkan secara real-time melalui layar LCD 16x2 dan didukung oleh indikator visual berupa LED tiga warna (merah untuk indikasi gas, kuning untuk api, dan biru untuk getaran/gempa), serta buzzer sebagai alarm suara ketika kondisi dapur berada pada kategori tidak aman. Selain itu, sistem ini dilengkapi aktuator otomatis berupa kipas (exhaust fan) yang akan langsung aktif untuk membuang akumulasi gas berbahaya ke luar ruangan saat kebocoran terdeteksi.
Dibandingkan dengan metode konvensional yang bergantung pada pengamatan manusia, sistem otomatis ini menawarkan akurasi, keberlanjutan, dan responsivitas yang jauh lebih tinggi. Integrasi multi-sensor ini tidak hanya memberikan perlindungan terhadap ancaman kebocoran gas dan kebakaran, tetapi juga memperluas cakupan mitigasi bencana dini terhadap ancaman gempa susulan melalui sensor getaran. Melalui pengembangan prototype ini, diharapkan masyarakat di masa pemulihan pasca-bencana dapat memperoleh manfaat ganda berupa peningkatan kenyamanan, kesiapsiagaan darurat, serta jaminan keselamatan jiwa yang lebih baik di lingkungan huntara.
2. Tujuan [kembali]
- Meningkatkan keselamatan dapur hunian sementara dari risiko kebakaran gas LPG secara otomatis.
- Mendeteksi konsentrasi kebocoran gas di udara menggunakan sensor MQ-6.
- Memantau getaran yang terjadi di permukaan gas saat terjadi gempa menggunakan sensor vibrator
- Mengidentifikasi keberadaan api di area dapur menggunakan flame sensor.
- Mengotomatisasi penanganan bahaya dengan mengaktifkan exhaust fan dan alarm buzzer.
- Memberikan indikasi visual melalui LED tiga warna dan menampilkan status data pada LCD 16x2.
- Memvalidasi algoritma filter dan logika kendali STM32 Blue Pill melalui simulasi Proteus.
3. Alat dan Bahan [kembali]
- Mengukur Tegangan (Voltage), Multimeter dapat mengukur tegangan listrik dalam rangkaian, baik tegangan searah (DC) maupun tegangan bolak-balik (AC). Rentang pengukuran tegangan biasanya berkisar dari milivolt (mV) hingga ratusan volt (V).
- Mengukur Arus (Current), Multimeter dapat mengukur aliran arus listrik dalam rangkaian. Multimeter digital dapat mengukur arus DC dan AC dengan rentang dari mikroampere (µA) hingga ampere (A). Untuk mengukur arus, multimeter harus disambungkan secara seri dengan rangkaian.
- Mengukur Resistansi (Resistance), Multimeter dapat mengukur hambatan dalam komponen atau rangkaian. Satuan resistansi adalah ohm (Ω), dengan rentang pengukuran dari ohm hingga megaohm (MΩ).
- Pengukuran Tambahan: Beberapa multimeter dilengkapi dengan fitur tambahan seperti pengukuran kapasitansi (farad), frekuensi (hertz), suhu (derajat Celsius atau Fahrenheit), serta tes dioda dan kontinuitas.
Sebaliknya, multimeter digital menampilkan hasil pengukuran dalam bentuk angka pada layar LCD, menawarkan kemudahan baca dan akurasi yang lebih tinggi. Multimeter digital sering dilengkapi dengan fitur tambahan seperti pengukuran kapasitansi, frekuensi, dan suhu. Meskipun biasanya lebih mahal dan membutuhkan baterai untuk semua jenis pengukuran, multimeter digital menyediakan keunggulan dalam kemudahan penggunaan dan keakuratan. Fitur auto-ranging pada multimeter digital juga menambah kepraktisan, dengan secara otomatis memilih rentang pengukuran yang sesuai, sehingga mengurangi risiko kesalahan pengukuran dan kerusakan alat. Berikut ini merupakan cara menggunakan multimeter:
- Pilih Mode Pengukuran:
- Hubungkan Probes:
- Baca Nilai:
3.1.2 Solder
Gambar 2. Solder
3.1.3 Adaptor
Gambar 3. Baterai
Adaptor adalah perangkat elektronik yang berfungsi mengubah tegangan listrik AC (arus bolak-balik) dari sumber listrik utama menjadi tegangan DC (arus searah) yang lebih rendah. Adaptor ini terdiri dari komponen internal seperti transformator untuk menurunkan tegangan, penyearah untuk mengubah AC menjadi DC, dan kapasitor serta regulator untuk menghaluskan dan menstabilkan tegangan keluaran. Saat adaptor dicolokkan ke stop kontak dan dihubungkan ke perangkat, ia menyediakan daya listrik yang sesuai untuk mengoperasikan atau mengisi ulang perangkat tersebut. Adaptor umumnya digunakan untuk berbagai perangkat elektronik yang membutuhkan daya rendah hingga menengah. Meskipun fungsi utamanya sama, adaptor dapat memiliki berbagai ukuran dan bentuk konektor keluaran yang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan perangkat yang akan dihubungkan. Adaptor ini krusial dalam menyediakan daya yang aman dan stabil, melindungi perangkat elektronik dari kerusakan akibat tegangan yang tidak sesuai.
Input: AC100-240V 50/60Hz
Output: DC 9V 2A
PCB (Printed Circuit Board) adalah papan sirkuit yang digunakan untuk menghubungkan dan mendukung komponen elektronik secara permanen dalam suatu rangkaian. Berbeda dengan breadboard, PCB dibuat dengan jalur konduktor dari tembaga yang tercetak di atas substrat isolator, biasanya berbahan fiberglass atau resin, sehingga memungkinkan hubungan listrik yang lebih stabil dan presisi. PCB umumnya dibuat menggunakan desain khusus yang disesuaikan dengan fungsi rangkaian, dan dapat memiliki satu lapisan (single layer), dua lapisan (double layer), atau bahkan beberapa lapisan (multilayer) untuk rangkaian yang kompleks. Komponen elektronik seperti resistor, kapasitor, IC, dan konektor dipasang pada papan ini dan disolder untuk menciptakan hubungan listrik yang kuat dan tahan lama. PCB banyak digunakan dalam perangkat elektronik komersial maupun proyek DIY tingkat lanjut karena memberikan keandalan, ketahanan, serta kemampuan untuk diproduksi massal.
3.1.5. Breadboard
Gambar 5. Breadboard
Breadboard adalah perangkat yang digunakan untuk membuat rangkaian elektronik sementara dan prototipe tanpa perlu menyolder komponen. Alat ini terdiri dari papan dengan lubang-lubang kecil yang terhubung secara elektrik, memungkinkan pengguna untuk memasukkan dan menghubungkan komponen seperti resistor, kapasitor, transistor, dan IC dengan mudah. Breadboard memiliki dua bagian utama: bagian tengah yang digunakan untuk menempatkan komponen, dan bagian samping yang biasanya digunakan untuk distribusi daya. Alat ini sangat berguna dalam tahap pengembangan dan pengujian karena memungkinkan modifikasi dan perbaikan rangkaian dengan cepat dan efisien. Breadboard hadir dalam berbagai ukuran, memungkinkan fleksibilitas dalam pembuatan prototipe untuk berbagai proyek elektronik.
3.1.6 Kabel Jumper
Gambar 6. Kabel Jumper
- Kabel Jumper Male-to-Male (M-M): Kabel ini memiliki konektor male di kedua ujungnya. Digunakan untuk menghubungkan dua titik pada breadboard atau menghubungkan titik pada breadboard dengan pin header pada mikrokontroler atau modul.
- Kabel Jumper Male-to-Female (M-F): Kabel ini memiliki konektor male di satu ujung dan konektor female di ujung lainnya. Biasanya digunakan untuk menghubungkan pin header pada mikrokontroler atau modul dengan perangkat yang memiliki konektor male.
- Kabel Jumper Female-to-Female (F-F): Kabel ini memiliki konektor female di kedua ujungnya. Umumnya digunakan untuk menghubungkan dua perangkat yang memiliki konektor male, seperti menghubungkan modul sensor dengan mikrokontroler.
MQ-6 adalah sensor gas semikonduktor yang dirancang khusus untuk mendeteksi gas LPG (Liquefied Petroleum Gas), Iso-Butane, Propane, dan gas combustible lainnya dengan sensitivitas sangat tinggi. Sensor ini merupakan bagian dari seri MQ gas sensor yang diproduksi oleh Hangzhou Winsen Electronics Technology Co., Ltd., sebuah perusahaan teknologi sensor terkemuka di Hangzhou, China. MQ-6 masuk dalam kategori sensor Metal Oxide Semiconductor (MOS) atau semikonduktor oksida logam, yang bekerja berdasarkan prinsip perubahan konduktivitas listrik material semikonduktor ketika berkontak dengan gas target. Material sensing utama yang digunakan adalah titanium dioxide (TiO₂) atau zinc oxide (ZnO), yang memiliki sifat konduktivitas berubah secara signifikan ketika terpapar gas LPG dalam konsentrasi tertentu.
Sensor MQ-6 memiliki berbagai keunggulan yang membuatnya sangat cocok untuk sistem deteksi kebocoran LPG pada dapur hunian sementara. Keunggulan utama meliputi sensitivitas sangat tinggi terhadap LPG dengan faktor 0.95, response time cepat kurang dari 10 detik untuk deteksi dini, jarak deteksi terjauh 30 cm yang cukup untuk ruang dapur, dan low false alarm karena sensitivitas rendah terhadap alkohol dan asap rokok. Drive circuit yang sangat sederhana hanya memerlukan supply 5V, load resistance 20KΩ, dan ADC mikrokontroler membuat implementasi menjadi mudah dan murah. Harga sensor yang sangat terjangkau sekitar Rp 25.000 membuat sistem deteksi dapat diakses oleh masyarakat hunian sementara dengan keterbatasan ekonomi. Sensor juga kompatibel dengan berbagai mikrokontroler dan memiliki durabilitas tinggi dengan steel mesh stainless steel 304 sebagai pelindung dari debu dan kontaminan fisik.
Spesifikasi MQ-6 Sensor:
- Jenis gas yang dideteksi: LPG, Iso-Butana, Propana
- Rentang pengukuran: 200 - 10.000 ppm
- Voltage supply (Vc & Vh): 5V ± 0,1V AC/DC
- Resistansi load (RL): 20 KΩ
- Resistansi heater (Rh): 33Ω ± 5%
- Resistansi sensing (Rs) pada 1000 ppm: 10 - 60 KΩ
- Suhu operasi: -10°C hingga 50°C
- Kelembapan relatif: < 95% RH
- Konsentrasi oksigen minimum: > 2%
- Waktu respons (T90): < 10 detik
- Waktu recover: < 30 detik
- Waktu preheat: > 24 jam (wajib sebelum penggunaan pertama)
- Suhu sensing: 300 - 400°C
- Resolusi: ~100 ppm
Flame sensor merupakan sensor yang dirancang khusus untuk mendeteksi adanya api atau sumber cahaya inframerah dari kebakaran dengan sensitivitas tinggi. Sensor ini menggunakan teknologi photodiode inframerah yang memiliki sensitivitas terhadap panjang gelombang cahaya api antara 760 nm hingga 1100 nm, yang merupakan spektrum cahaya inframerah yang dipancarkan oleh api. Flame sensor sangat cocok untuk sistem deteksi kebocoran LPG pada dapur hunian sementara karena dapat mendeteksi api yang timbul akibat kebocoran gas sebelum kebakaran meluas, sehingga memberikan peringatan dini untuk evakuasi dan tindakan pencegahan lebih lanjut.
Cara kerja flame sensor didasarkan pada prinsip deteksi cahaya inframerah yang dipancarkan oleh api. Ketika api terbentuk, api akan memancarkan cahaya dalam spektrum inframerah dengan panjang gelombang 760-1100 nm. Photodiode inframerah di dalam sensor akan mendeteksi cahaya inframerah ini dan mengubahnya menjadi sinyal listrik yang kemudian diolah oleh circuit Comparator untuk menghasilkan output digital. Jika sensor mendeteksi adanya cahaya inframerah dari api, output akan berubah dari LOW (0V) menjadi HIGH (5V), yang kemudian dapat dibaca oleh mikrokontroler untuk mengaktifkan alarm dan tindakan otomatis seperti exhaust fan untuk membuang gas menumpuk.
- Jenis sensor: Phototransistor inframerah YG1006
- Spektrum deteksi: 760 nm hingga 1100 nm (cahaya inframerah dari api)
- Voltage operasi: 3,3V hingga 5V DC
- Current operasi: 15 mA
- Chip Comparator: LM393
- Output: Digital (D0) dan Analog (A0)
- Sudut deteksi: 0° hingga 60 derajat
- Jarak deteksi: Api kecil: hingga 100 cm (80 cm), Api besar: hingga 750 cm (7,5 m)
- Response time: < 100 mikrosecond (deteksi sangat cepat)
- Sensitivitas: Dapat diatur dengan potentiometer
- Temperature operasi: -25°C hingga 85°C
- Temperature penyimpanan: -30°C hingga 100°C
- Photosensitivity: Tinggi terhadap spektrum api
- Accuracy:Dapat diatur dengan potentiometer
- Name: SW-420 Vibration Sensor Module.
- Operating Voltage: (3.3~5)Vdc.
- Default Output: Normally Close (NC).
- Output: Digital D0.
- On-board signal indicator LED.
- On-board LM393 Op-Amp for Sensitivity Adjustment.
- Module Dimension: 32mm x 14mm.
Spesifikasi :
Resistance (ohms) : 10K, 500K
Power (Watts) : 0.25W, 1/4W
Tolerance : -+ 5%
Packaging : Bulk
Composition : Carbon Film
Temperature Coefficient : 350 ppm/C
Lead free status : Lead free
RoHS status : RoHS Compliant
4. Dasar Teori [kembali]
Sistem Monitoring dan Deteksi Kebocoran LPG pada Dapur Hunian Sementara dirancang sebagai solusi teknologi terapan untuk memitigasi risiko kebakaran akibat keterbatasan indra penciuman manusia di lingkungan pengungsian pasca-bencana. Dapur pada hunian sementara umumnya memiliki karakteristik ruang yang sempit, bermaterial ringan, dan berventilasi buruk, sehingga akumulasi gas sekecil apa pun berpotensi mencapai batas ledakan dalam waktu singkat. Melalui pendekatan early warning system, sistem ini mengintegrasikan mikrokontroler sebagai pusat kendali otomatis untuk memantau parameter lingkungan secara real-time. Keberadaan sistem ini tidak hanya mempercepat respons evakuasi melalui alarm suara (buzzer) dan indikator visual (LED), tetapi juga mampu melakukan tindakan preventif mandiri dengan mengaktifkan kipas pembuangan (exhaust fan) untuk mengurai konsentrasi gas berbahaya sebelum terjadi ledakan.
4.1 STM32 Blue Pill STM32F103C8T6
Pusat pemrosesan data pada sistem ini mengandalkan STM32 Blue Pill berbasis IC STM32F103C8T6 yang berfungsi mengolah input sensor dan mengendalikan output berupa LED, LCD, serta buzzer. Dalam aplikasi monitoring drainase, mikrokontroler ini membaca tiga jenis parameter: sensor hujan (via pin analog/digital), tingkat ketinggian air dari sensor VL53L0X (via protokol I2C), dan debit aliran air dari sensor YF-S201 (via perhitungan pulsa digital). Data yang telah terhimpun kemudian dianalisis untuk menentukan status drainase sekaligus mengaktifkan indikator eksternal.
Kemampuan pembacaan analog pada STM32F103C8T6 didukung oleh fitur ADC internal 12-bit yang menghasilkan output digital dengan skala rentang 0 sampai 4095. Hubungan linear antara tegangan masukan analog terhadap nilai digital ADC tersebut dinyatakan dalam persamaan berikut:
4.2 Sensor MQ-6
Sensor MQ-6 merupakan komponen semikonduktor oksida logam (Metal Oxide Semiconductor) yang dirancang khusus untuk mendeteksi keberadaan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas), iso-butana, dan propana di udara bebas. Prinsip kerja sensor ini mengandalkan material sensitif berupa timah dioksida (SnO2) yang memiliki konduktivitas rendah saat berada di lingkungan udara bersih. Ketika komponen heater internal memanaskan sensor dan permukaan materialnya terpapar oleh gas pereduksi seperti LPG, terjadi peningkatan kerapatan donor elektron. Proses kimiawi tersebut mengakibatkan nilai resistansi internal sensor (Rs) menurun secara signifikan, yang mana perubahan resistansi ini dikonversi menjadi tegangan keluaran analog melalui rangkaian pembagi tegangan untuk kemudian dibaca oleh pin ADC mikrokontroler.
Karakteristik performa sensor ini dapat dianalisis melalui kurva sensitivitas standar pabrikan yang disajikan dalam skala logaritmik, seperti yang ditunjukkan pada gambar datasheet. Grafik tersebut memetakan hubungan antara konsentrasi gas dalam satuan part per million (ppm) pada sumbu-X terhadap rasio resistansi (Rs/Ro) pada sumbu-Y, di mana Ro merupakan nilai resistansi sensor pada udara bersih. Melalui grafik karakteristiknya, terlihat jelas bahwa kurva gas LPG menempati posisi paling bawah dengan tingkat kemiringan (slope) yang tajam dibandingkan gas lain seperti metana (CH4), hidrogen (H2), karbon monoksida (CO), maupun alkohol. Hal ini membuktikan bahwa sensor MQ-6 memiliki selektivitas dan tingkat kepekaan yang sangat tinggi terhadap molekul gas LPG.
Hubungan logaritmik terbalik antara konsentrasi gas dan resistansi sensor berimplikasi langsung pada mekanisme deteksi di dalam program. Peningkatan kepekatan gas dari rentang 200 ppm hingga 10000 ppm akan terus menekan nilai rasio Rs/Ro ke tingkat yang lebih rendah. Sebaliknya, ketika kondisi lingkungan berada pada status udara normal (Fresh Air), nilai resistansi sensor (Rs) berada pada titik maksimumnya sehingga garis grafik udara bersih stabil di posisi paling atas. Hubungan matematis untuk menentukan nilai resistansi sensor (Rs) terhadap hambatan beban (RL) dan tegangan output ADC (Vout) dapat dituliskan sebagai berikut:
Rs = ((Vcc - Vout) / Vout) * RL
Sedangkan untuk konversi nilai tegangan analog (Vout) dari nilai digital ADC 12-bit pada STM32 dengan tegangan referensi (Vref) sebesar 3.3V dihitung dengan rumus:
Vout = (Nilai_ADC * 3.3) / 4095
Dalam perancangan sistem monitoring, kurva pendekatan ini digunakan untuk menentukan batas ambang kritis melalui garis horizontal. Saat akumulasi gas di dapur huntara meningkat hingga membuat nilai pembacaan tegangan analog melewati batas ambang 3V atau setara dengan Nilai_ADC >= 2457, mikrokontroler secara otomatis mengidentifikasinya sebagai kebocoran gas berbahaya dan seketika mengaktifkan seluruh alarm keselamatan.
Ketika nilai Rs/Ro = 0,66, berdasarkan kurva sensitivitas datasheet MQ-6, konsentrasi gas LPG yang terdeteksi berada di kisaran 1.500 hingga 2.000 ppm.
Nilai ini tergolong aman sebagai titik peringatan dini. OSHA (Occupational Safety and Health Administration) menetapkan batas ledakan terendah (Lower Explosive Limit / LEL) untuk gas LPG sekitar 1,9% di udara, yang setara dengan 19.000 ppm untuk butana. Sementara sistem ini mengaktifkan alarm pada kisaran 0,15% hingga 0,2% di udara jauh di bawah LEL.
Dengan menerapkan konsep early warning system pada rentang ini, sistem memberikan waktu yang cukup bagi penghuni untuk melakukan evakuasi sebelum konsentrasi gas mendekati 18.000 ppm. Kipas yang aktif secara otomatis saat alarm berbunyi juga membantu mengalirkan udara terperangkap keluar dari dapur, sehingga risiko ledakan dapat dicegah secara aktif.
4.3 Sensor Flame
Sensor api yang digunakan dalam sistem keamanan pintar ini bekerja dengan cara mendeteksi keberadaan api melalui pancaran radiasi cahaya inframerah (Infrared/IR) yang dihasilkan oleh lidah api, khususnya dari hasil pembakaran gas hidrokarbon seperti LPG. Komponen utama pada modul sensor ini adalah sebuah fotodioda atau fototransistor yang dirancang sangat sensitif terhadap cahaya pada panjang gelombang antara 760 nm hingga 1100 nm (Near-Infrared) dengan sudut deteksi sekitar 60 derajat. Sinyal analog yang ditangkap oleh fotodioda kemudian diproses oleh IC komparator (umumnya LM393) di dalam modul untuk diubah menjadi sinyal digital HIGH atau LOW, di mana batas sensitivitas deteksinya (threshold) dapat diatur secara manual melalui komponen potensiometer (trimpot).
Dalam implementasi perangkat keras dan kode program STM32 ini, sensor dikonfigurasi dengan logika Active Low (Aktif Rendah) pada pin PA1. Pada kondisi standby atau saat tidak ada api, fotodioda tidak menerima radiasi IR yang cukup sehingga komparator mengeluarkan tegangan tinggi mendekati VCC (Logika 1 / HIGH) yang membuat sistem membaca situasi dalam keadaan aman. Sebaliknya, ketika ada api yang memancar, hambatan pada fotodioda akan turun drastis dan memicu komparator untuk menjatuhkan tegangan keluaran ke Ground (Logika 0 / LOW). Kondisi LOW inilah yang dibaca oleh pin PA1 sebagai sinyal GPIO_PIN_RESET, yang kemudian diterjemahkan oleh program untuk mengubah status flame_detected menjadi 1 (True) guna mengaktifkan alarm kebakaran.
Untuk menjaga stabilitas pembacaan sinyal dari sensor, pin PA1 pada mikrokontroler STM32 dikonfigurasi menggunakan fitur Pull-Up internal (GPIO_PULLUP). Konfigurasi ini berfungsi untuk menarik tegangan pin ke kondisi mantap HIGH saat sensor berada dalam fase transisi atau ketika tidak ada sinyal kuat, sehingga mencegah terjadinya kondisi mengambang (floating) yang bisa mengacaukan logika program. Dari segi karakteristik operasional, sensor api berbasis IR ini memiliki keunggulan berupa respons yang sangat cepat (dalam hitungan mikrodetik) sehingga ideal untuk sistem pemutus darurat. Namun, sistem ini juga memiliki kelemahan terhadap risiko false alarm karena fotodioda dapat terpengaruh oleh sumber inframerah lain seperti lampu pijar atau cahaya matahari langsung, sehingga penempatan fisik sensor di area kompor harus terlindung dari paparan cahaya luar secara langsung.
4.4 Sensor Vibrator
Vibration sensor atau sensor getaran adalah suatu perangkat elektronika yang berfungsi untuk mendeteksi adanya guncangan, getaran fisik, ketukan, atau pergerakan mekanis di lingkungan sekitarnya. Modul yang sering digunakan dalam perancangan mikrokontroler adalah tipe SW-420 atau 801S. Sensor ini bekerja memanfaatkan komponen mekanis internal berupa pegas logam halus (vibration spring) atau bola konduktor kecil yang sangat sensitif terhadap gaya gerak. Ketika sensor berada dalam posisi diam, komponen mekanis tersebut menjaga sirkuit tetap terbuka atau tertutup secara stabil, namun ketika menerima gaya kinetik dari luar, komponen di dalamnya akan berosilasi dan mengubah status sambungan listrik internalnya.
Dalam aplikasinya pada sistem keselamatan Hunian Sementara (Huntara), sensor getaran memegang peran krusial sebagai instrumen mitigasi bencana dini, khususnya gempa bumi atau potensi keruntuhan struktur bangunan akibat guncangan luar. Struktur Huntara yang umumnya semi-permanen sangat rentan terhadap kerusakan struktural, sehingga deteksi guncangan yang cepat menjadi faktor penentu keselamatan penghuninya. Begitu mikrokontroler menangkap perubahan logika HIGH dari sensor getaran, program akan langsung mengeksekusi interupsi darurat untuk mengaktifkan indikator LED Biru, membunyikan alarm buzzer peringatan evakuasi, serta menampilkan instruksi tanggap darurat pada layar LCD demi menyelamatkan jiwa penghuni rumah.
4.5 LCD 16x2 I2C
LCD 16x2 I2C digunakan untuk menampilkan informasi hasil pembacaan sensor dan status sistem. LCD ini dapat menampilkan dua baris karakter, sehingga sesuai untuk menampilkan data sederhana seperti status getaran, status kebocoran gas dan percikan api.
4.6 LED Indikator
LED digunakan sebagai indikator visual untuk menunjukkan kondisi sistem. Sistem menggunakan tiga warna LED, yaitu biru, kuning, dan merah. LED merah menunjukkan kondisi bahwa terdapat kebocoran gas di udara, LED kuning menunjukkan munculnya api pada kompor dan terjadi kebakaran dan LED biru menunjukan bahwa terjadi getaran atau gempa sehingga penghuni harus melakukan evakuasi
Penggunaan LED bertujuan agar status sistem dapat diketahui secara cepat tanpa harus membaca nilai sensor secara detail pada LCD. Pembagian status LED dapat dilihat pada Tabel
5. Percobaan [kembali]
Komentar
Posting Komentar